Ditulis 2 februari 2011,
Besok saya harus sudah pulang ke semarang. Ada hal yang mau diselesaikan. Tapi, sepertinya berat sekali meninggalkan rumah kecil saya disini. Apalagi jika saya melihat wajah kedua orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya, rasanya ingin selalu berada di samping mereka setiap saat. Bercerita tentang banyak hal, mencurahkan segala perasaan sayang dan cinta kami yang tidak bisa digambarkan dengan sesuatu apapun. Karna cinta ini sungguh amat suci, murni, bersih, dan hakiki karena merupakan anugerah dari ALLAH SWT. Orang Tua. Ya. Merekalah kedua orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Namun mereka berdua pula orang yang paling sering terzdalimi oleh saya. Sangat terdzalimi. Karena segala kebaikan mereka, pengorbanan mereka, ketulusan mereka, dan keletihan mereka telah disia-siakan oleh seorang anak perempuan yang mereka pikir akan membuat bangga orangtua dengan segala baktinya kepada ayah ibunya. Pada kenyataannya, anak ini tidak bisa membalas dengan sesuatu yang berarti kepada orangtuanya. Dia di sekolahkan agar baik akhlaknya kepada orangtua, namun yang dilakukannya hanya hal-hal bodoh yang seringkali membuat kesal hati orangtuanya. Dia dibesarkan agar bisa menjadi perawat orangtuanya dikala susah dan sakit, namun apa yang dilakukannya, dia malah sibuk dengan urusannya sendiri. Mengurus hal yang dia katakan untuk kepentingan orang banyak. Tapi dia telah melupakan kepentingan orangtuanya.
Semuanya menjadi seperti bawang yang uapnya selalu mengeluarkan airmata. Ibu Ayah, mohon maaf saya belum bisa berbakti dengan sepenuh hati kepada kalian, mohon maaf jika kelakuan saya hanya bisa membuat kalian malu di depan semua orang, mohon maaf belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk kalian sampai saat ini. Maaf. Dan airmata itupun terus mengalir sebanyak perasaan bersalah saya kepada orangtua.
“Ya ALLAH ampunillah dosa-dosa kedua orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar