Teknik Lingkungan adalah suatu program studi / jurusan yang masih tergolong baru dalam dunia perguruan tinggi. Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki jurusan ini pun masih sedikit, hanya ada di UI, ITS, UNDIP, dan ITB. Isu pemanasan global yang sedang marak dibicarakan dan degradasi kualitas lingkungan yang kian bertambah memicu tanggung jawab kaum intelektual untuk bisa menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Oleh karena itu timbulah kesadaran para pendidik perguruan tinggi untuk membentuk jurusan / program studi teknik lingkungan di universitasnya. Dengan harapan mahasiswa atau lulusan sarjana teknik lingkungan di universitas tersebut bisa mengatasi dan memberi solusi atas permasalahan yang terjadi seperti pemanasan global dan degradasi kualitas lingkungan seperti yang sudah disebutkan di atas. Jumlah sarjana teknik lingkungan yang ada pun belum cukup memenuhi tempat-tempat lapangan pekerjaan seorang ahli rekayasa lingkungan. Disebutkan pada beberapa sumber bahwa perbandingan antara jumlah sarjana teknik lingkungan yang memenuhi standar kualitas dengan tingkat keterbutuhan sarjana teknik lingkungan adalah berkisar 1 : 1000.
Lalu manakah yang harus didahulukan, peningkatan kuantitas mahasiswa atau peningkatan kualitas mahasiswa dalam hal ini mahasiswa sebagai calon sarjana teknik lingkungan.? Tentunya kedua-duanya harus bisa berjalan seiringan. Isu tentang pengrusakan lingkungan di segala daerah dan di segala aspek parameter lingkungan seperti kualitas air, kualitas udara, limbah buangan dan lain sebagainya semakin mengglobal dan selalu menjadi perbincangan menarik. Kampanye-kampanye yang menyuarakan perlindungan lingkungan juga semakin gencar dilakukan. Mau tidak mau jumlah masyarakat yang peduli terhadap permasalahan lingkungan juga semakin meningkat, hal ini akan berpengaruh pada dorongan hati nurani para kaum terpelajar dalam hal ini calon mahasiswa untuk turut serta menjadi golongan yang memiliki kapasitas untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang keadaannya semakin mengancam. Maka dapat diprediksi bahwa akan terjadi peningkatan kuantitas mahasiswa yang akan mendalami bidang ilmu teknik lingkungan.
Namun apakah peningkatan jumlah mahasiswa secara kuantitas saja sudah cukup untuk menjawab semuanya.? Jawabannya adalah belum. Dunia luar bukan hanya membutuhkan seorang sarjana teknik lingkungan, tetapi membutuhkan sarjana berkualitas yang benar-benar mendalami ilmu-ilmu rekayasa lingkungan. Lapangan pekerjaan membutuhkan sarjana yang bukan hanya menguasai teorinya, tetapi juga memiliki rasa atau jiwa seorang ahli rekayasa lingkungan agar bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya.
Dalam mengasah kemampuannya / keterampilannya manusia memiliki dua bagian yaitu hardskill dan softskill. Hardskill seorang mahasiswa sangat berhubungan dengan kegiatan akademis mereka yang nantinya akan menjadi bekal untuk mengasah pola pikir dan analisis terhadap permasalahan yang ada. Kualitas hardskill mahasiswa didukung oleh sistem pengajaran para dosen dan kemandirian mahasiswa dalam menggali ilmu lingkungan dari berbagai sumber. Sedangkan softskill adalah kemampuan mahasiswa untuk menggali potensinya di luar aspek akademis seperti teknik komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, sikap kritis dan hal-hal lain yang juga dibutuhkan sebagai peningkatan kualitas sarjana teknik lingkungan. Jika pengasahan hardskill sudah ditangani oleh sistem pengajaran para dosen, maka siapa yang menangani pengasahan softskill mahasiswa di bidangnya.?
Oleh sebab itulah, Para pengkader atau bidang Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa seharusnya ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar