Beberapa minggu ini kebetulan saya sedang membaca sebuah buku yang dipinjamkan seorang teman. Judulnya "Elegi Cinta Maria" yang mengisahkan tentang cinta Nabi Muhammad SAW dengan istri asal mesir bernama Maria. Di dalamnya diceritakan cara-cara unik Rasulullah SAW menyebarkan Islam. Ternyata Rasul adalah orang yang paling sabar yang pernah ada. Selalu membalas perlakuan buruk dengan kebaikan. Semoga kita bisa menirunya. Amin.
Nah disini yang ingin saya sampaikan adalah penggalan kalimat-kalimat yang indah. Sebenernya masih banyak untaian kata-kata indah dalam novel ini. Tapi saya cuplik yang saat ini sedang menarik bagi saya. Begini kira-kira.
Tiba-tiba segalanya menjadi jelas bagi Ma'bur. Seluas senyum di bibir Asif yang bergetar sebelum mereka tidur. Sebulir keringat yang menetes di pelipisnya. Keterdiamannya. Suara dengkuran aneh yang samar-samar menghilang bersama melarutnya malam. Ma'bur merasakan kehilangan yang menghujam di dasar jantungnya.
"Paman," bisik pemuda itu. "Mari, kita shalat. Sebentar lagi akan dimulai. Nabi sudah tiba. Mari...," kata pemuda itu sembari menuntun Ma'bur dengan lembut.
Tetapi, Baba, tiba-tiba Ma'bur mendengar suara Yasmin di telinganya.
Bukankah perpisahan itu adalah suatu kepastian bagi mereka yang pernah saling bertemu?
Sebagaimana kehilangan yang juga menjadi karib bagi setiap orang yang memiliki. Kalau begitu, Baba, mengapa engkau tidak mensyukuri apa yang saat ini menjadi milikmu, yang bersamamu, yang sedang engkau temui, sebelum akhirnya suatu hari nanti, mungkin engkau juga akan kehilangan dia, berpisah dengan dia.
Jika bukan dia yang meninggalkanmu, mungkin engkaulah yang meninggalkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar