Alhamdulillah sudah dapet izin dari Ibu Titik untuk 'ngopy' notesnya.
Judulnya Amanah Baru, Tanggung Jawab baru
Kebahagiaan dan puji syukur tak terhingga membuncah dari perasaan kami atas limpahan karuniaNya di bulan Ramadhan ini. Bagaimana tidak? Setelah cukup lama menunggu, akhirnya alhamdulillah, SK Guru Besar suamiku telah selesai ditandatangani, sekaligus menempatkannya sebagai profesor yang relatif muda dengan usia 38 tahun saat ini. Barakallah dan selamat suamiku sayang, semoga semakin barakah manfaat ilmu dan amanah yang ada, menjadikanmu makin dekat dan banyak tunduk bersyukur padaNya. Tetaplah merendah, karena dengan itu DIA akan meninggikanmu. Jangan pernah merasa pongah, meski aku tahu segala ikhtiarmu, sungguh semua ini tidak akan pernah terjadi tanpa ijin dari Rabbmu.
Masih lekat dalam ingatan ucapanmu hampir sekitar empat belas tahun yang lalu. “Ketika aku memutuskan untuk memasuki suatu sistem, maka aku akan berusaha sebaik yang aku bisa untuk melakukan yang terbaik. Dalam pekerjaanku, dalam hidupku," katamu waktu itu. Dan aku pun terpaku mendengar kesungguhanmu, meski saat itu aku belum terlalu mengerti maksud dari kalimatmu. “Begitu pun ketika aku diijinkan untuk menjadi suamimu, maka aku pun akan berusaha terbaik untuk menjadi sebaik-baik pendamping untukmu,” lanjutmu kemudian, yang menjadikan aku cukup berani memutuskan untuk menikah meskipun masih berstatus mahasiswi saat itu.
Dan kamu pun selalu memenuhi ucapanmu dulu. Aku menjadi saksi kerja kerasmu. Aku sering melihat sendiri upaya tak kenal lelahmu. Dan setiap melihat perjuangan penuh semangatmu, urung selalu keinginanku untuk sekadar berkeluh kesah tentang urusan remeh-temeh rumah tangga kita. Sebagai gantinya batinku selalu berbisik, “Ya, Illahi Rabbi, mudahkanlah selalu urusan suamiku, luruskan niatannya agar selalu bekerja dalam rangka taat pada perintahMu. Ridhailah langkah-langkahnya dan catatlah setiap usahanya sebagai amalan ibadah kepadaMu. Karuniakan kepadanya usia, waktu dan kesehatan yang penuh kebarakahan. Dan mudahkanlah pula semua urusanku terutama yang berkenaan dengan anak-anak kami, agar aku bisa meringankan bebannya bukan malah sering merepotkan suamiku.”
Tentu saja kamu bukanlah manusia sempurna. Alpa sering ada padamu. Tapi yang aku suka, setiap telah menyadari kesalahanmu, kamu akan segera meninggalkan dan menggantinya dengan kebaikan yang banyak. “Ketika aku salah dan kamu tahu itu, tolong jangan biarkan aku atas nama sungkan atau sekadar mengujiku kesungguhanku lalu kamu membiarkanku dengan harapan agar aku menyadari sendiri keluputanku. Mungkin aku tidak sadar kalau aku sedang keliru, atau aku tahu, tapi aku masih kebingungan mencari cara untuk segera keluar dari kesalahanku. Untuk itulah salah satu adanya kamu, mendampingiku, bukan saja selalu mengiyakanku tapi juga menegur dan mengingatkanku,“ pintamu suatu waktu.
Sekali lagi mabruk suamiku, semoga Allah SWT memudahkanmu dalam amanah dan tanggung jawab baru. Ini memang layak dan pantas untukmu. Dan catatanku ini sama sekali bukan sekadar untuk menonjolkan dan membanggakanmu, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas semua peluhmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar