Hari ini saya jatuh hati. Jatuh hati pada sebuah karya sastra anak negeri.
Dalam sebuah buku yang berjudul "Izinkan Aku Meminangmu", ada banyak kisah penuh haru biru bahagia sedih dan banyak lagi. Tapi satu hal yang paling indah dalam buku ini. Ada salah satu puisi dalam cerpen di buku ini yang berjudul "Di Selasar Mahkota Edelweiss"
Pada sekuntum bunga Edelweiss,
Aku memahami, mengapa tak mudah bagi para Nabi untuk menahan tangis, dari sebuah keharuan yang menggelora di setiap sekat rongga dada,
Akan sepotong cerita tentang keabadian cinta dalam dongeng senja
Pada peluh yang tercecer di selasar mahkotamu, Edelweiss
Aku mengerti, ada pengorbanan yang harus ditempuh
Saat kepak sayap bidadari surgawi telah sempurna meredam gejolak ombak samudera nun jauh di kedalaman hati..
Pada kelopakmu yang tiada pernah mengering, Edelweiss..
Aku tahu, lisanmu tak jua pernah kering,
Dari tasbih yang terus merenda bersama rinai gerimis..
Dan rukukmu tak jua pernah henti walau jurang menatap sinis..
Pada tangkaimu yang selalu tegar, Edelweiss..
Kutemukan sebab mengapa Ia menciptamu
Lewat keabadianmu, Ia berharap kami menyadari bahwa hanya cintaNya-lah yang abadi
Dan cinta yang berpadu tak lain hanya karena Ia semata, dan juga benci yang juga hadir hanya karenaNya..
'Ini cokelat dan edelweiss, untukmu yang termanis..'
Terima kasih ya :')
BalasHapusHai Ka Zulfa. Puisimu bagus sekali :)
BalasHapus