“Mijon..mijon..mijon…” teriakan abang pedangan minuman itu membuyarkan
lamunanku.
Terminal kampung rambutan malam ini lebih ramai dari yang biasa
kulihat. Pedagang minuman makin banyak dari biasanya. Sialnya teriakan
abang-abang satu ini terlalu bersemangat sehingga lamunanku buyar
sebuyar-buyarnya. Ya. Aku yang sedang melamun diantara pantulan cahaya kamera
depan ponselku. Kulihat sekali lagi wajahku di kamera.
Lalu aku bercengkrama dengan bayanganku sendiri.
‘Ah tetap tak nampak cantik. Tapi
lumayanlah. Hidung masih ada, mulut, mata, alis, telinga masih tersedia.’
Menyadari itu, aku bersyukur saja. Begitu lebih baik bagiku.
Di sekeliling terminal kampung rambutan hari ini, kupandangi satu
persatu orang sepanjang perjalanan tadi. Banyak gelandangan, pedagang asongan,
anak jalanan, bahkan preman gadungan. Ada juga pengemis yang matanya hampir tertutup
rapat. Hampir. Dugaanku ia sudah tak dapat lagi melihat. Tangannya mengadah
mengharap Tuhan memberi rezeki lewat tangan-tangan manusia lainnya yang berhati
mulia. Meskipun di belahan bumi lainnya, masih ada si buta yang berjuang demi
mewujudkan impiannya menjadi pelari, pelukis, koki, dan lain-lain. Sungguh. Masih
ada. Coba kau lihat dunia.
Ah menyadari itu, sebenanya tak ada celah lagi bagiku untuk mengutuk
bentuk wajahku ini. Jujur. Aku ingin. Ingin nama panggilanku benar-benar
melukiskan seperti apa diriku. Cantik. Mulia sekali orangtuaku memilihkan nama
panggilan itu.
Kalau aku memang cantik sungguhan, pasti sudah banyak pria-pria tampan
yang berebut mendapatkan hatiku. Dan si geng cewe-cewe gaul di kampusku pasti
senang berkumpul denganku. Haduh aku kebanyakan mimpi. Nyatanya si Priyo cowo
paling aneh di kelasku saja tak berselera makan di kantin denganku. Nasib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar