Sabtu, 25 Juni 2016

A Story : 7 Summit #2

“Mijon..mijon..mijon…” teriakan abang pedangan minuman itu membuyarkan lamunanku. 
Terminal kampung rambutan malam ini lebih ramai dari yang biasa kulihat. Pedagang minuman makin banyak dari biasanya. Sialnya teriakan abang-abang satu ini terlalu bersemangat sehingga lamunanku buyar sebuyar-buyarnya. Ya. Aku yang sedang melamun diantara pantulan cahaya kamera depan ponselku. Kulihat sekali lagi wajahku di kamera.
Lalu aku bercengkrama dengan bayanganku sendiri.
‘Ah tetap tak nampak cantik. Tapi lumayanlah. Hidung masih ada, mulut, mata, alis, telinga masih tersedia.’
Menyadari itu, aku bersyukur saja. Begitu lebih baik bagiku.
Di sekeliling terminal kampung rambutan hari ini, kupandangi satu persatu orang sepanjang perjalanan tadi. Banyak gelandangan, pedagang asongan, anak jalanan, bahkan preman gadungan. Ada juga pengemis yang matanya hampir tertutup rapat. Hampir. Dugaanku ia sudah tak dapat lagi melihat. Tangannya mengadah mengharap Tuhan memberi rezeki lewat tangan-tangan manusia lainnya yang berhati mulia. Meskipun di belahan bumi lainnya, masih ada si buta yang berjuang demi mewujudkan impiannya menjadi pelari, pelukis, koki, dan lain-lain. Sungguh. Masih ada. Coba kau lihat dunia.
Ah menyadari itu, sebenanya tak ada celah lagi bagiku untuk mengutuk bentuk wajahku ini. Jujur. Aku ingin. Ingin nama panggilanku benar-benar melukiskan seperti apa diriku. Cantik. Mulia sekali orangtuaku memilihkan nama panggilan itu.
Kalau aku memang cantik sungguhan, pasti sudah banyak pria-pria tampan yang berebut mendapatkan hatiku. Dan si geng cewe-cewe gaul di kampusku pasti senang berkumpul denganku. Haduh aku kebanyakan mimpi. Nyatanya si Priyo cowo paling aneh di kelasku saja tak berselera makan di kantin denganku. Nasib. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar