Sabtu, 25 Juni 2016

A Story : 7 Summit #3

Aku garuk-garuk kepala mengingat lagi semuanya. Daritadi terlalu banyak melamun. Kebiasaan sejak dulu, mengisi waktu menunggu lebih asik dengan melamun.
Sudah 1 jam aku menunggu. Menunggu 2 orang temanku. Dan mereka bukan sekedar teman. Meskipun aku baru mengenal mereka 2 tahun belakangan ini. Tapi sungguh berteman dengan mereka bisa membuat hidupku menjadi lebih hidup. Apalagi yang lebih menyenangkan selain bertemu dan berkawan dengan orang-orang se-hobi. Syukur-syukur bisa punya pasangan yang se-hobi #Eh #KokBaper

“Woy! Ngelamun aja!” si cewe ini menepuk bahuku. Melemparkan semua lamunan tadi. Ah ganggu.
“Neng, abang udah jamuran di terminal. Nyalon dulu ya tadi? Udah kelewatan 3 bus nih kita daritadi.” Kusindir si Tine yang emang tukang ngaret itu. Namanya Tine. Christine. Ejaannya bukan Tine yang e-nya seperti becak, tapi yang-e nya seperti mekar.  Nanti ya kuceritakan lagi tentang Tine di lain waktu.
“Haha. Maapin aku Icaaan. Tadi mandiin kuda dulu. Kasian abang delmannya kecapean.” Seribu alas an dilontarkannya. Bahkan alasan nggak logis. Emang kurang waras si Tine. Ah tapi aku suka berkawan dengannya. Kemudian Tine berpindah ke tempat duduk di sampingku.
“Alasan macam apa itu. Dasar Tince princes ngaret. By the way, Cece mana? Bukannya tadi mau bareng kamu?” Satu lagi temanku namanya Cece. Nama aslinya sama sekali nggak nyambung dengan nama panggilannya. Cece. Ejaannya bukan Cece yang e-nya seperti mekar, tapi e-nya seperti becak. Nah kan. Kau mulai pusing dengan nama teman-temanku.
“Kata Cece ketemu di basecamp aja. Dia dianter Aldo.”
“Halah anak muda. Pacarnya mau naik gunung aja pake dianter segala ke basecamp.”
“Yee namanya punya pacar gitu can. Ada yang merhatiin. Ada yang nganterin kemana-mana. Ada yang jagain. Emangnya kita. Jagain hati sendiri aja susyaah.”
“HAHAHAHAHA.” Kita ketawa bareng. Alias ngetawain diri sendiri. Dasar jomblo.
Tapi ya gitu. Aku dan Tine beda nasib. Aku jomblo karna nggak laku-laku. Tine? Dia jomblo karna kebanyakan nolak cowo. Adil nggak? Kadang hidup nggak adil ya guys.
“Udah ah. Tuh bus nya dateng. Berangkat kita!” Tine selalu bersemangat menyambut waktu-waktu seperti ini. Aku pun.
“Berangkat nih? Jadi nih kita muncak?”
“Jadi dooong. Aku udah siap banget. Liat nih. Ga sabar nikmatin puncak itu sama kalian.” Jawab Tine sambil memamerkan ta scarier besar dan sepatu gunungnya kepadaku. Menandakan bahwa ia sudah siap lahir batin. Siap mengarungi bahtera hidup. Eh salah. Siap mengarungi perjalanan menuju puncak Ciremai.
Yak kali ini kami bertiga memutuskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Ciremai. Ini kali kedua buat Tine. Tapi pertama kalinya buat aku dan Cece ke Gunung Ciremai.
“Oke kalo gitu Tine yang kece. Lets go ciremai!” kami bergegas menaiki bus yang telah berhenti di hadapan kami berdua. Senyum kami mengembang.
Menanti saat-saat medebarkan melewati hamparan hutan menuju puncak yang berwibawa itu. Kesukaan kami sama. Menikmati alam dan menghirup dinginnya angin di paginya puncak gunung. Atau bahkan hanya sekedar numpang tidur di lapak yang berbeda dari kamar kita di kota. Kasur kita tanah, atapnya langit, AC-nya alami dan sederhana dari desiran angin yang berhembus di antar kabut yang melembut. Lepas sudah segala baju kesombongan. Sungguh di gunung kita tak punya apa-apa.
Puncaknya mempesona jiwa raga. Keindahannya tak tertanding. Ketenangan jiwa tak terlukis. Kebahagiaan tersembunyi bagi yang menyukai tantangan. Kau harus merasakan atmosfernya.
Soal mengapa kami suka mendaki. Bagi kau yang jiwanya tak serupa dengan kami. Mungkin kau tak habis fikir mengapa kami rela berlelah-lelah mengarungi hutan itu. Demi puncak itu.
Aku..hanya ingin bercerita. Tentang kebahagianku menemukan perjalanan panjang yang bahkan setiap detiknya tak bisa kulupa. Tentang sepotong memori otakku yang menyimpan rekaman-rekaman keindahan gunung-gunung itu. Sungguh lebih nyata dari mata kamera.


Oiya, aku lupa satu hal. 2 orang temanku itu kupaksa memanggilku dengan nama Ican :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar