Aku garuk-garuk kepala mengingat lagi semuanya. Daritadi terlalu
banyak melamun. Kebiasaan sejak dulu, mengisi waktu menunggu lebih asik dengan
melamun.
Sudah 1 jam aku menunggu. Menunggu 2 orang temanku. Dan mereka bukan
sekedar teman. Meskipun aku baru mengenal mereka 2 tahun belakangan ini. Tapi
sungguh berteman dengan mereka bisa membuat hidupku menjadi lebih hidup. Apalagi
yang lebih menyenangkan selain bertemu dan berkawan dengan orang-orang
se-hobi. Syukur-syukur bisa punya pasangan yang se-hobi #Eh #KokBaper
“Woy! Ngelamun aja!” si cewe ini menepuk bahuku. Melemparkan semua
lamunan tadi. Ah ganggu.
“Neng, abang udah jamuran di terminal. Nyalon dulu ya tadi? Udah
kelewatan 3 bus nih kita daritadi.” Kusindir si Tine yang emang tukang ngaret
itu. Namanya Tine. Christine. Ejaannya bukan Tine yang e-nya seperti becak,
tapi yang-e nya seperti mekar. Nanti ya
kuceritakan lagi tentang Tine di lain waktu.
“Haha. Maapin aku Icaaan. Tadi mandiin kuda dulu. Kasian abang
delmannya kecapean.” Seribu alas an dilontarkannya. Bahkan alasan nggak logis. Emang
kurang waras si Tine. Ah tapi aku suka berkawan dengannya. Kemudian Tine
berpindah ke tempat duduk di sampingku.
“Alasan macam apa itu. Dasar Tince princes ngaret. By the way, Cece mana? Bukannya tadi mau
bareng kamu?” Satu lagi temanku namanya Cece. Nama aslinya sama sekali nggak
nyambung dengan nama panggilannya. Cece. Ejaannya bukan Cece yang e-nya seperti
mekar, tapi e-nya seperti becak. Nah kan. Kau mulai pusing dengan nama
teman-temanku.
“Kata Cece ketemu di basecamp aja. Dia dianter Aldo.”
“Halah anak muda. Pacarnya mau naik gunung aja pake dianter segala ke
basecamp.”
“Yee namanya punya pacar gitu can. Ada yang merhatiin. Ada yang nganterin
kemana-mana. Ada yang jagain. Emangnya kita. Jagain hati sendiri aja susyaah.”
“HAHAHAHAHA.” Kita ketawa bareng. Alias ngetawain diri sendiri. Dasar
jomblo.
Tapi ya gitu. Aku dan Tine beda nasib. Aku jomblo karna nggak
laku-laku. Tine? Dia jomblo karna kebanyakan nolak cowo. Adil nggak? Kadang
hidup nggak adil ya guys.
“Udah ah. Tuh bus nya dateng. Berangkat kita!” Tine selalu bersemangat
menyambut waktu-waktu seperti ini. Aku pun.
“Berangkat nih? Jadi nih kita muncak?”
“Jadi dooong. Aku udah siap banget. Liat nih. Ga sabar nikmatin puncak
itu sama kalian.” Jawab Tine sambil memamerkan ta scarier besar dan sepatu
gunungnya kepadaku. Menandakan bahwa ia sudah siap lahir batin. Siap mengarungi
bahtera hidup. Eh salah. Siap mengarungi perjalanan menuju puncak Ciremai.
Yak kali ini kami bertiga memutuskan untuk melakukan pendakian ke
Gunung Ciremai. Ini kali kedua buat Tine. Tapi pertama kalinya buat aku dan
Cece ke Gunung Ciremai.
“Oke kalo gitu Tine yang kece. Lets go ciremai!” kami bergegas menaiki
bus yang telah berhenti di hadapan kami berdua. Senyum kami mengembang.
Menanti saat-saat medebarkan melewati hamparan hutan menuju puncak
yang berwibawa itu. Kesukaan kami sama. Menikmati alam dan menghirup dinginnya angin
di paginya puncak gunung. Atau bahkan hanya sekedar numpang tidur di lapak yang
berbeda dari kamar kita di kota. Kasur kita tanah, atapnya langit, AC-nya alami
dan sederhana dari desiran angin yang berhembus di antar kabut yang melembut. Lepas
sudah segala baju kesombongan. Sungguh di gunung kita tak punya apa-apa.
Puncaknya mempesona jiwa raga. Keindahannya tak tertanding. Ketenangan
jiwa tak terlukis. Kebahagiaan tersembunyi bagi yang menyukai tantangan. Kau harus
merasakan atmosfernya.
Soal mengapa kami suka mendaki. Bagi kau yang jiwanya tak serupa
dengan kami. Mungkin kau tak habis fikir mengapa kami rela berlelah-lelah
mengarungi hutan itu. Demi puncak itu.
Aku..hanya ingin bercerita. Tentang kebahagianku menemukan perjalanan
panjang yang bahkan setiap detiknya tak bisa kulupa. Tentang sepotong memori
otakku yang menyimpan rekaman-rekaman keindahan gunung-gunung itu. Sungguh lebih
nyata dari mata kamera.
Oiya, aku lupa satu hal. 2 orang temanku itu kupaksa memanggilku
dengan nama Ican :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar